Bayi dan anak-anak sangat berpotensi terpapar sinar biru dalam aktivitasnya sehari-hari.

Ada kencenderungan anak-anak saat ini lebih cepat menggunakan kaca mata sebagai alat bantu penglihatan. Tak hanya di Indonesia, kecenderungan serupa juga terjadi di banyak negara. Fenomena inipun kerap dibahas dalam berbagai pertemuan ilmiah yang dihadiri para dokter spesialis mata dari berbagai negara.

Namun, seperti dituturkan dr Rita S Sitorus PhD SpM(K), para dokter belum menemukan jawaban pasti dari fenomena tersebut. ”Mungkin gabungan dari banyak hal,” tutur Konsultan Pediatrik Ophtalmologis/Spesialis Mata Anak dari Departemen Mata Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta itu.

Belum adanya jawaban yang pasti, membuat beragam dugaan bermunculan. Ada yang menduga, hal itu disebabkan oleh kerapnya anak-anak mengkonsumsi makanan siap saji (fast food). Ada juga yang menduga, hal itu merupakan akibat dari kebiasaan anak-anak masa kini yang banyak menghabiskan waktu di depan layar televisi atau monitor komputer.

”Bagaimanapun juga, ini perlu dijawab dengan penelitian,” ujar Rita. Terlepas dari berbagai dugaan tersebut, pancaran sinar dari layar televisi, lampu neon, komputer, dan matahari diyakini menjadi sumber sinar biru. Dan ini, paling dekat dengan anak-anak. Apa itu sinar biru? Ini adalah sinar dengan panjang gelombang antara 400 – 500 nm pada spektrum sinar yang masih dapat diterima oleh mata.

Sinar ini bisa mencapai retina dan menyebabkan kerusakan mata. Pada retina mata anak, sinar berpotensi menimbulkan luka fotokimia. Hal ini bisa menyebabkan macula degenerasi yang akan muncul pada saat dewasa. Dalam jangka pendek, sinar biru dapat mengganggu kerja retina sehingga menghambat proses pembelajaran melalui mata.

Dengan kata lain, sinar biru bersifat merusak. ”Dan itu merupakan akibat radikal bebas dari sinar biru,” lanjut Rita dalam media edukasi bertema: Waspadai Bahaya Sinar Biru terhadap Kesehatan Mata dan Kecerdasan Anak, Kamis (24/5) lalu, di Jakarta. Risiko terbesar akibat sinar biru dialami oleh anak usia dini. Berbagai penelitian menunjukkan, sekitar 70-80 persen sinar biru dapat mencapai retina pada anak usia 0-2 tahun, dan 60-70 persen pada anak usia 2-10 tahun. Sementara sinar biru yang mencapai retina pada orang berusia 60-90 tahun hanya sekitar 20 persen.

Bayi dan anak sangat berpotensi terpapar sinar biru dalam aktivitasnya sehari-hari. Dan selama ini, banyak orangtua yang tidak menyadari akan bahaya tersebut. Hal ini tak lain karena minimnya pengetahuan mereka tentang bahaya sinar biru.

Perlindungan

Perlindungan terhadap bahaya sinar biru harus dilakukan sedini mungkin. Salah satunya dengan asupan lutein. Lutein adalah carotenoid yang terdapat pada ASI (Air Susu Ibu), sayuran, dan buah-buahan. Lutein dapat membantu melindungi mata, terutama retina mata, dari kerusakan dengan cara menyaring sinar biru. Lutein juga berperan sebagai antioksidan dengan cara menetralisir radikal bebas.

Menurut Rita, bagian luar fotoreseptor di dalam retina adalah bagian yang cenderung mudah terkena peroksidasi karena tingginya asam lemak. Bagian luar fotoreseptor inilah yang kaya akan lutein. ”Lutein berperan sebagai antioksidan dan memberikan perlindungan pada mata.”

Tubuh, jelas Rita, tidak dapat mensintesakan lutein. Karena itu, kebutuhan lutein harus disuplai dari luar tubuh. Asupan ini bisa diperoleh dari sayuran, buah-buahan, ASI, dan suplemen. Sayangnya, bahan makanan yang mengandung lutein biasanya tidak disukai dan jarang dikonsumsi oleh bayi dan anak-anak.

Penelitian menunjukkan, hanya sekitar 10 persen anak yang mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan setiap harinya. Padahal, kecukupan lutein pada makanan membantu menjamin perkembangan mata yang sehat pada bayi dan anak.

Mata merupakan salah satu indera penting bagi proses belajar. Menurut dr Dwi Putro Widodo SpA (K) Mmed, konsultan neurologi pada Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, fungsi penglihatan (visual) adalah salah satu bagian dalam perkembangan kognitif. ”Perkembangan visual adalah jendela dalam sistem kecerdasan dan menjadi petunjuk penting bagi kebutuhan nutrisi otak,” tutur Dwi dalam media edukasi tersebut.

Menurut dia, ada beberapa nutrisi penting untuk menjaga kesehatan mata, seperti vitamin A, AA-DHA, taurin, dan lutein. Lutein, kata dia, adalah jenis karotenoid alami, dapat membantu melindungi mata bayi dan anak di bawah usia tiga tahun yang masih peka terhadap cahaya sinar biru.

Dibandingkan pada sayur dan buah-buahan, lutein lebih banyak terdapat pada ASI. Artinya, makin lama seorang anak diberi ASI, makin tinggi pula kemampuan visualnya. ”Ini sudah dibuktikan melalui penelitian.” Lalu, apa yang bisa dilakukan agar anak terhindar dari bahaya sinar biru? Menurut Dwi, jangan biarkan anak terlalu lama terpapar oleh sumber sinar biru. ”Sedapat mungkin berikan cukup makanan yang berperan menjaga kesehatan mata. Selain itu, kurangi menonton televisi,” Rita menambahkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>